
Gubernur NTT Bersama Stack Holder Terkait Panen Simbolis Pilot Project Jagung di Kelurahan Naibonat.
KabKupang_IndoNusra.com– Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama pembangunan termasuk dalam meningkatkan produksi pertanian, khususnya komoditas jagung yang memiliki peran strategis dalam memperkuat Ketahanan Pangan Daerah.
“Program seperti ini harus terus dikembangkan dan direplikasi di wilayah lain. Gotong royong antara petani, pemerintah, dan swasta menjadi kunci keberhasilan dalam meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat”, ujarnya.
Demikian disampaikan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena saat menghadiri kegiatan Panen Simbolis Pilot Project Jagung dalam ekosistem jagung gotong royong Tani Optima Group yang mengusung tema “Menuju NTT Lumbung Jagung Nasional”, di Kelurahan Naibonat, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Rabu (01/04).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan jagung sekaligus bentuk apresiasi atas keberhasilan pelaksanaan pilot project yang melibatkan petani, pemerintah, dan sektor swasta.
Direktur Tani Optima Group Ferdy Purnama, menjelaskan bahwa program ekosistem jagung ini telah melalui tahap pilot project selama 5–6 bulan di lima wilayah di NTT.
Ia menyebutkan, Implementasi program ini mengadopsi pola kerja yang telah berhasil diterapkan di Pulau Jawa, serta diperkuat dengan pembangunan sistem kontrol terintegrasi memanfaatkan teknologi Strava dan IRV yang mampu menyajikan data secara real time dalam pengelolaan komoditas jagung.
“Dari sisi hasil, terjadi peningkatan signifikan. Setelah penerapan ekosistem, produktivitas meningkat menjadi 5-6 ton per hektare”, jelasnya.
Menurutnya, potensi pengembangan jagung di NTT sangat besar, didukung oleh kondisi lahan yang subur, luas lahan kering mencapai sekitar 3,5 juta hektare, serta peluang tanam hingga dua kali dalam setahun.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Melki mengaku kagum akan peningkatan hasil panen yang signifikan, dari sebelumnya 1,5–2 ton per hektare menjadi 5–6 ton per hektare.
“Kalau kita kerja gotong royong seperti ini, hasilnya pasti lebih baik. Sinergi semua pihak akan menghasilkan peningkatan yang berlipat dan ini harus menjadi pola kerja ke depan”, tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi produk jagung agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Jagung diharapkan tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk turunan, dengan dukungan pelatihan dan akses pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank NTT.
Selain itu, Ia juga mendorong agar model kerja sama ini dapat direplikasi di berbagai wilayah di NTT guna memperkuat identitas provinsi sebagai sentra produksi jagung nasional.
Salah satu petani, Ornolus Kila Sadukh, mengungkapkan bahwa program ini memberikan dampak nyata bagi peningkatan hasil dan pendapatan petani.
Menurutnya, pendampingan intensif dari Tani Optima Group, termasuk penerapan pola tanam yang lebih teratur, berhasil meningkatkan hasil panen menjadi sekitar 5–6 ton per hektare.
“Sekarang hasilnya jauh lebih baik. Kami juga bisa mendapatkan pendapatan sekitar Rp4 juta per bulan. Kami sangat bersyukur dengan program ini”, ungkapnya.
Namun demikian, Ia berharap adanya dukungan pemerintah dalam mengatasi keterbatasan sumber air, terutama menjelang musim tanam kedua (MT-2).
Pantauan, kegiatan ditutup dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Tani Optima Group dan Bank NTT serta penyerahan pembayaran hasil panen kepada Poktan Satu Hati.
Turut dihadir, Wakapolda NTT Brigjen. Pol. Baskoro Tri Prabowo beserta jajaran Polda NTT, Direksi Bank NTT, jajaran Bio Cycle Group dan Tani Optima Group, Pimpinan Wilayah Perum Bulog Kanwil NTT, Ketua HIPMI NTT, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov NTT Joaz Bily Oemboe Wanda, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kupang Amin Juariah, jajaran Pimpinan Perangkat Daerah Kabupaten Kupang, penyuluh pertanian, serta para petani. (BAPNTT/FT/Dok.HH).
