Olahraga

Melalui Tour de EnTeTe, Gubernur NTT Dorong Sport Tourism dan Gerakkan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

18
×

Melalui Tour de EnTeTe, Gubernur NTT Dorong Sport Tourism dan Gerakkan Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat

Sebarkan artikel ini
Keterangan: Pelepasan Peserta Tour de EnTeTe oleh Bupati Kabupaten TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.IP.M.A.
Keterangan: Pelepasan Peserta Tour de EnTeTe oleh Bupati Kabupaten TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo, S.IP.M.A.

Kupang_IndoNusra.com- Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena menegaskan bahwa penyelenggaraan Tour de EnTeTe Tahun 2026 bukan sekadar kegiatan olahraga dan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Provinsi NTT, tetapi juga menjadi strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Hal tersebut disampaikannya pada Pelepasan Tour de EnTeTe Etape I Daratan Timor Rute II (Kabupaten TTU – TTS) pada Kamis (05/11) pagi.

Pada kesempatan tersebut, Gubernur Melki juga menyerahkan bantuan pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) kepada masyarakat di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Bantuan diberikan kepada masing-masing lima penerima manfaat dari kedua kabupaten, sehingga total terdapat 10 unit rumah yang mendapatkan dukungan pembangunan.

Penyerahan bantuan ini merupakan wujud perhatian dan kepedulian Pemerintah Provinsi NTT terhadap peningkatan kualitas hunian masyarakat, sekaligus bagian dari upaya mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pembangunan yang menyentuh kebutuhan dasar.

Sebagai bentuk apresiasi, juga akan diberikan penghargaan kepada lima peserta terbaik dari seluruh rangkaian Etape Tour de EnTeTe 2026. Penilaian dilakukan berdasarkan berbagai kriteria yang telah ditetapkan dengan mempertimbangkan partisipasi peserta selama mengikuti kegiatan.

“Sebagai bentuk apresiasi, kita akan mencari lima peserta terbaik dari seluruh rangkaian etape Tour de EnTeTe ini. Mereka akan mendapatkan hadiah berupa kesempatan berangkat ke Tanah Suci sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Ini menjadi bentuk penghargaan sekaligus motivasi agar seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan penuh semangat”, ungkap Melki.

Sementara itu, Ketua Panitia Etape I Rute II (Kabupaten Timor Tengah Utara–Kabupaten Timor Tengah Selatan), Alberd Pairikas, dalam laporannya menyampaikan bahwa rute kegiatan dimulai dari Kantor Desa Oeprigi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), dan berakhir di Kantor Camat Polen, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), dengan jarak tempuh sekitar 10 kilometer.

Kegiatan ini melibatkan kurang lebih 1.600 peserta yang terdiri atas pelajar SMA/SMK, masyarakat, personel TNI, serta ASN dari Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten TTU maupun TTS.

Menurut Alberd, Tour de EnTeTe tidak hanya diisi dengan aktivitas olahraga, tetapi juga dirangkaikan dengan berbagai aksi sosial di sepanjang rute. Kegiatan tersebut meliputi kunjungan ke rumah tidak layak huni, sekolah, pelaku UMKM, serta sejumlah titik kemasyarakatan lainnya.

Selain itu, di lokasi finish Kantor Camat Polen, Kabupaten TTS, disiapkan sejumlah aktivitas pendukung, antara lain Pojok Promosi UMKM, Bank NTT Corner, posko pemeriksaan kesehatan, pelayanan Samsat Keliling, serta aksi peduli lingkungan melalui penanaman bibit anakan pohon.

Bupati TTU, Yosep Falentinus Kebo, dalam kesempatan tersebut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Gubernur NTT beserta jajaran Pemerintah Provinsi NTT atas penyelenggaraan Tour de EnTeTe yang turut memberikan perhatian kepada wilayah perbatasan antar kabupaten.

“Pelaksanaan Tour de EnTeTe memilih tempat di wilayah perbatasan antara dua kabupaten. Tentunya hal ini memberikan perhatian khusus bagi wilayah perbatasan. Oleh karena itu, kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada jajaran Pemerintah Provinsi NTT atas perhatian yang diberikan”, ungkap Yosep.

Menanggapi pelaksanaan kegiatan tersebut, Melki menjelaskan bahwa Etape I Daratan Timor memiliki arti strategis karena melintasi sejumlah wilayah kabupaten, sekaligus mempererat kebersamaan dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sepanjang rute kegiatan.

Penyelenggaraan sport tourism ini juga sejalan dengan Dasa Cita ke-3 Pemerintah Provinsi NTT, yakni menjadikan pariwisata sebagai penggerak ekonomi lokal. Para bupati dan wali kota Se-NTT diminta memfasilitasi keterlibatan pelaku UMKM lokal pada setiap titik akhir (finish) kegiatan jalan sehat maupun lomba lari.

“Titik finish harus menjadi ruang promosi sekaligus pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Produk lokal seperti kuliner khas daerah, tenun ikat, dan berbagai produk UMKM lainnya perlu diberikan kesempatan untuk tampil dan dipasarkan kepada para peserta maupun masyarakat yang hadir”, jelasnya.

Meningkatnya mobilitas peserta diharapkan dapat memberikan dampak langsung terhadap omzet pelaku UMKM sekaligus menggerakkan sektor pendukung lainnya, seperti akomodasi, transportasi lokal, dan kuliner.

Untuk itu, diperlukan dukungan lintas sektor, termasuk pelayanan kesehatan, pengamanan, dan koordinasi antarpemerintah daerah agar kegiatan berjalan aman dan lancar.

“Harapan kita, momentum seperti ini terus dipelihara agar roda perekonomian masyarakat di Nusa Tenggara Timur semakin bergerak, mandiri, dan berkelanjutan”, tambahnya. (BAPSNTT/CG/Dok.Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *