Daerah

Tertangkap CCTV KMP Kalibodri, Pria Asal Desa Oemasi Nekat Lompat ke Laut

1455
×

Tertangkap CCTV KMP Kalibodri, Pria Asal Desa Oemasi Nekat Lompat ke Laut

Sebarkan artikel ini
Keterangan: Diduga Korban yang Melompat dari KMP. Kalibodri ke Laut.
Keterangan: Diduga Korban yang Melompat dari KMP. Kalibodri ke Laut.

KabKupang_IndoNusra.com  AT alias Becek (korban), Pria asal RT.010/RW.006, Dusun 04, Desa Oemasi, Kecamatan Nekamese, Kabupaten Kupang, NTT tertangkap CCTV KMP. Kalibodri pelayaran Kupang tujuan Aimere sekitar pukul (22:30) hari Jumat, (11/09) lalu nekat melompat di Laut Sawu.

Pria tersebut bekerja sebagai Kondektur di Mobil Truk Trans Kupang-Flores (Reyhan) yang mengangkut barang milik Badan Penanggulangan Bencana Provinsi NTT untuk Bantuan Bencana Gempa Flores berupa  Sembako dan Logistik.

Pemilik Reyhan Trans Kupang-Flores, Anus Teuf  kepada media ini Senin, (14/09) sekitar pukul (21/30) WITA  di Rumah Duka yang beralamat di RT.010/RW.006, Desa Oemasi mengatakan bahwa korban sudah bekerja bersamanya kurang lebih 1 Bulan 2 hari bersama Istrinya atas nama, Yori S. Tnunai.

“Dong dua kerja dengan saya sudah satu bulan dua hari. Dan juga bersangkutan saya punya adik. Sehingga mau bagaimana juga saya tetap bertanggung jawab. Karena korban ini sudah mempunyai dua orang anak yang juga masih sekolah”, ujarnya.

Lebih lanjut, korban baru pertama kali mengikuti pelayaran Kupang-Flores bersama dengan Operator (Sopir), Stef Abineno tujuan pelayaran Kupang-Aimere.

“Jadi barang bantuan itu tujuannya ke Aimere, Manggarai Timur, Ruteng, dan Manggarai Barat”, ungkapnya.

Menurutnya, dengan adanya kejadian ini pihak keluarga mengetahuinya hari Sabtu 12 September 2026 sekitar pukul (05/00) WITA.

Informasi yang ia peroleh dari operator Reyhan Trans, Stef bahwa korban tidak ada. Dan waktu itu ada Oknum Anggota TNI-AD yang mengetahuinya bahwa korban melompat ke laut.

“Setelah saya dapat informasi, saya langsung datang ketemu orang tua (mama) dari korban untuk menginformasikan ke keluarga. Sehingga dari keluarga menyampaikan bahwa apa yang sudah terjadi ya keluarga relakan saja. Karena ini mungkin jalanya”, bebernya.

Sehingga Ia bersama Keluarga korban yang juga sebagai salah satu Oknum Anggota Polri yang bertugas di Polda NTT, dan Kepala Desa Oemasi melaporkan kejadian ini ke Tim SAR NTT.

Setelah melaporkan ke tim SAR NTT (Kupang), tim SAR menyampaikan bahwa Itu wilayahnya Kabupaten Maumere (Sikka) sehingga pihak Tim SAR Sikka yang akan melakukan pencarian karena wilayah lautnya masuk dalam Laut Sawu jadi kewenangan pencarian terhadap korban kewenangan Tim SAR Sikka.

Dengan adanya kejadian ini, Ia berharap agar Tim SAR Kabupaten Sikka bisa secepatnya dapat menemukan korban.

“Karena korban sudah tiga hari di laut. Itu yang keluarga harapkan, dan juga keluarga minta”, punyanya.

Sementara, Abdulrahman Djuma, Rescuer Kansar Maumere yang di konfirmasi media ini via Handphone WhatsApp Senin, (23/09) sekitar pukul (22:43) WITA mengakui bahwa benar adanya kejadian seperti itu.

Namun, untuk sementara pihak Rescuer Kanser Maumere masih melakukan Pemapelan membangun informasi terkait Maklumat Pelayaran (Mapel).

“Jadi untuk sementara kita masih mapel, sebarkan informasi ke pos terdekat seperti Pulau Ende, dan laporan yang diterima dari Tim SAR Kupang hari Sabtu. Dan pemalen itu kita lakukan komunikasi dengan lewat srop (radio Orari) SAR di pesisir daerah-daerah terdekat”, ungkapkannya.

Karena untuk sementara posisi Korban masih agak sulit untuk tim SAR lakukan pencarian, sehingga SAR Maumere sudah berkoordinasi dengan para Nelayan yang melakukan aktifitas melaut, apa bila menemukan korban, bisa diinformasikan kepada Tim SAR Maumere.

“Untuk pemapelan ini berdasarkan kejelasan (SOP), di mana kita lakukan komunikasi mau berapa hari. Karena sampai ada informasi dulu, karena tidak ada kejelasan apakah korban masih dalam keadaan hidup atau sudah putus napas”,

Jika ada pun Informasi-informasi yang sudah jelas bahwa korban berada di pesisir laut sekian, maka Tim SAR bisa mendatangi tempat korban berada. Karena pemapelan ini biasanya dilakukan selama kurang lebih 7 hari, kadang sampai 2-3 Minggu.

Perkembangan pemapelan ini tim SAR Maumere menyampaikan ke pusat setiap hari, masih dalam keaktifan.

“Maklumat pelayaran ini kita koordinasi selain ke pusat, kita juga koordinasi dengan wilayah yang dekat dengan lokasi seperti ke srop Ende. Jadi seperti kapal-kapal niaga, kapal yang terdaftar di pemerintah yang memiliki alat komunikasi dengan baik. Sehingga saat pelayaran dan menemukan tanda-tanda yang mencurigakan bisa disampaikan ke tim SAR”, terangnya. (Yuantin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *