
KabKupang_IndoNusra.com– Untuk mendukung program Pemerintah Pusat yakni Swasembada pangan, kini dengan luas lahan sekitar 2,15 Hektar Are (Ha), Corporate Social Responsibility (CSR) Novanto milik Warga, Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, NTT, mulai di panen.
Salah satu Warga Kelurahan Naibonat, yang juga sebagai pemilik lahan CSR di Desa Manusak, Aristo Kiuk kepada media ini hari Jumat, (01/05) siang di lokasi ketika wawancarai mengatakan bahwa luas lahan CSR yang Ia miliki sekitar 2,15 Ha.
Untuk sementara yang sudah di panen sekitar 1 hektar lebih, dan hasilnya sekitar 153 karung.
“Ini baru pertama jadi, Kita bersyukur sa cuman masih kurang dari harapan, karena biasanya dalam satu hektar dia berada di 200 karung”, ujarnya.
Namun, pada kesempatan itu juga walaupun hasilnya demikian, Dirinya tetap menyampaikan limpah terima kasih kepada Pemerintah karena lahan tidur bisa di olah dan membuahkan hasil.
Ia juga meminta kepada Pemerintah agar ke depan bisa membantu buatkan salah satu bendungan setengah mati atau bendungan darurat agar dapat menampung air untuk membantu perairan dari bendungan (waduk) Raknamo.
Karena, total luas lahan CSR yang ada di Novanto ini sebanyak 55 ha, maka itu sangat membutuhkan air.
“Kalau bisa kita petani CSR ini harap agar ke depan pemerintah bisa buat satu bendungan. Karena total lahan CSR yang di tanam ini kurang lebih 33,40. Ada juga yang gagal karena faktor air, maka di butuhkan bendungan setengah mati. Waktu itu orang tua sempat buat pake karung. Karena kalau ke depan bendungan jadi bisa maka bisa mengairi lahan CSR yang di Novanto, dan lahan CSR Naoadale, Desa Pukdale yang sekitar 47 hektar”, bebernya.
Sementara, Yefta Bengkiuk sebagai Kepala Defisit Alsintan Brigade Pangan Mandale ketika di mintai tanggapan terkait di lokasi panen CSR mengatakan, lahan ini baru pertama kali di kelola karena adanya Program Cetak Sawah oleh Pemerintah Pusat turun ke Pemerintah Daerah untuk mendukung program Pemerintah Pusat yakni Swasembada Pangan.
Sehingga sebagai petani, Ia berterimakasih kepada Presiden, Gubernur NTT, Bupati Kupang, Dinas Pertanian Provinsi, dan Kabupaten Kupang yang sudah membantu Masyarakat dengan pembukaan lahan CSR untuk kepentingan bantuan alsintan sampai pada hasil panen.
Walaupun demikian, Dirinya menguraikan bahwa di lokasi atau lahan CSR seperti ini membutuhkan air seperti Sumur Bor dangkal.
“Disini di perlukan sumur bor dangkal, pompa diesel, dan perpipaan atau bendungan. Karena ketersediaan air dari waduk Raknamo tidak terlalu terlalyani hingga lokasi CSR Novanto. Yang di butuhkan itu maksimal 1,5 hektar butuh satu sumur bor. Karena debit air ini lumayan cukup besar di lahan kami ini”, tutur Teny akrab di sapa.
MT2 ini yang sangat di butuhkan itu adalah air. Kalau untuk tracktor sudah ada. Karena program csr ini sangat bagus.
Ia menjelaskan bahwa Brigade Pangan ini kelompok yang di bentuk berdasarkan Juknis yang di turunkan oleh Kementrian Pertanian.
Sebagaimana lahan yang di kerjakan oleh brigade pangan itu lahan Perajanjian Kerja Sama (PKS), seperti perjanjian yang lahan pertanian dan Opla dengan sistem bagi hasil atas kesepakatan petani dan pemilik lahan.
“Jadi misalkan petani mau untuk dia kerjakan oleh brigade pangan ya bagi hasil. Karena semua itu sudah di siapkan oleh brigade pangan. Kalau tidak ya pemilik lahan itu kerja sendiri”. Urainya.
Tambahnya, kalau untuk hasil sangat memuaskan, karena bisa mencapai 6 ton per hektar. Itu untuk lahan yang di mana belum ada saluran irigasi. Tapi kalau yang ada saluran irigasi maka pasti hasilnya lebih bagus lagi.
“Jadi kelompok ini berkerja di optimalisasi lahan (opla), dan lahan CSR, kemudian di berikan bantuan berupa alsintan serta obat-obatan sampai pada tingkat perawan. Artinya untuk semua keperluan yang berkaitan dengan CSR”, tutupnya. (Yuantin)

