
Kupang_IndoNusra.com– Suasana penuh kehangatan menyelimuti lokasi reuni Keluarga Besar Lamakera ketika ribuan warga dari berbagai daerah berkumpul dalam satu ikatan persaudaraan.
Tawa, pelukan, dan sapaan akrab menjadi pemandangan yang mewarnai pertemuan yang bukan sekadar ajang melepas rindu, tetapi juga mempererat nilai kebersamaan yang telah diwariskan turun-temurun.
Irama musik tradisional, tarian adat dan gendang menyambut langkah para tamu yang memasuki arena pembukaan Reuni VII dan Musyawarah Nasional (Munas) II Keluarga Lamakera se-Indonesia bertempat di Lapangan Bola Lamakera, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur-NTT hari Jumat, (03/07) sore lalu.
Balutan tenun khas, tarian adat, serta sapaan hangat masyarakat menghadirkan suasana yang sarat makna, seolah menegaskan bahwa Lamakera bukan hanya sebuah kampung, melainkan rumah besar yang menyatukan warganya dari berbagai penjuru Nusantara.
Bagi masyarakat Lamakera, reuni bukan sekadar agenda seremonial. Pertemuan ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi lintas generasi, mengenalkan nilai-nilai adat kepada anak muda, sekaligus membangun jejaring antarkeluarga yang tersebar di berbagai wilayah.
Di tengah semarak kebersamaan itu, kehadiran Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Republik Indonesia Yandri Susanto, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Johni Asadoma, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan dan Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, beserta rombongan tamu undangan lainnya disambut dengan penuh penghormatan.
Kehadiran Mendes PDT, Yandri Susanto bersama Wakil Gubernur, Johni Asadoma menjadi perhatian tersendiri. Secara khusus, Mendes PDT Yandri Susanto mengaku terkesan melihat suasana kekeluargaan dan semangat gotong royong yang menjadi ruh penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Dari penataan lokasi, penyediaan konsumsi, hingga penyambutan ribuan peserta, semuanya dikerjakan secara bersama-sama oleh masyarakat dan keluarga besar Lamakera.
Dalam sambutannya, Mendes PDT Yandri Susanto mengaku terkesima melihat semangat gotong royong yang masih hidup di tengah masyarakat Lamakera. Menurutnya, nilai tersebut merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam membangun daerah dan bangsa.
“Semangat kebersamaan seperti ini adalah kekuatan yang harus terus dijaga. Dan budaya gotong royong yang saya lihat hari ini adalah kekuatan luar biasa dari warisan budaya, warisan leluhur Lamakera. Ini merupakan modal sosial yang harus terus dipelihara karena menjadi fondasi dalam membangun daerah dan bangsa serta menghadapi berbagai tantangan pembangunan,” ujar Mendes PDT.
Ia menambahkan bahwa pemerintah terus mendorong pembangunan desa yang berakar pada kearifan lokal. Semangat gotong royong diterangkannya merupakan salah satu nilai yang selama ini ditekankan dalam berbagai program pembangunan desa karena mampu memperkuat partisipasi masyarakat serta mempercepat kemajuan desa.
Mendes PDT juga menyampaikan harapannya agar keluarga besar Lamakera yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia terus menjaga persatuan serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah dan kemajuan bangsa.
“Sebagai anak desa, saya bangga, karena di sini saya temukan jati diri orang desa. Dan saya yakin, apabila setiap desa di Indonesia punya nilai-nilai keguyuban yang kuat seperti masyarakat Lamakera, Insyaalah Indonesia bisa hebat ke depan. Keluarga besar Lamakera di mana pun berada tentu saya harapkan tetap terus menjaga nilai persaudaraan, semangat gotong royong, dan kecintaan terhadap kampung halaman. Jadilah bagian dari solusi dan terus berkontribusi bagi pembangunan daerah serta kemajuan Indonesia,” jelasnya.
Tidak lupa, Mendes PDT juga mengajak generasi muda Lamakera untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, mengembangkan keterampilan, dan memanfaatkan peluang di berbagai sektor tanpa melupakan akar budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur.
Sebelumnya, Wakil Gubernur NTT dalam sambutannya menyampaikan selamat datang dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia beserta seluruh jajaran yang berkesempatan hadir dalam acara sosial kemasyarakatan di Pulau Solor tersebut.
Menurutnya, kehadiran Mendes PDT pada momentum ini semakin mempertegas bahwa pembangunan desa hanya akan berhasil apabila dibangun melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dan diaspora.
“Selamat datang di Kabupaten Flores Timur, selamat datang di Pulau Solor, dan selamat datang di tanah Lamakera. Atas nama Pemerintah Provinsi NTT dan seluruh masyarakat NTT, kami menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kehadiran Bapak Menteri di tengah-tengah keluarga besar masyarakat Lamakera,” ucap Wagub Johni.
Kehadiran Bapak Menteri merupakan suatu kehormatan sekaligus menjadi penegasan bahwa pembangunan desa, wilayah pesisir, dan kawasan kepulauan merupakan bagian penting dari agenda pembangunan nasional.
Semoga kunjungan ini semakin mempererat sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Flores Timur, pemerintah desa, serta seluruh elemen masyarakat dalam mewujudkan desa-desa yang maju, mandiri, tangguh, dan sejahtera.
Dijelaskan Wagub Johni, bagi masyarakat NTT, tanah kelahiran bukan sekadar titik koordinat geografis, melainkan sebuah ikatan spiritual yang tak pernah putus, sejauh apa pun mereka merantau.
Narasi kerinduan dan tanggung jawab moral inilah yang membingkai momentum bersejarah Reuni VII dan Munas II Keluarga Besar Lamakera Se-Indonesia yang diselenggarakan di tanah leluhur- Lamakera.
Momentum ini merupakan sebuah konsolidasi strategis, di mana kekuatan intelektual, finansial, dan sosial para perantau diketuk untuk merumuskan kontribusi nyata bagi akselerasi pembangunan di Provinsi NTT.
“Dan reuni ini menjadi ruang refleksi bersama untuk melihat kembali sejauh mana putra-putri daerah yang telah sukses di tanah rantau dapat “memanggil pulang” keahlian dan kapital mereka guna menyentuh tanah kelahiran yang masih terus berjuang melawan berbagai tantangan pembangunan”, jelasnya.
Wagub Johni juga menekankan bahwa reuni se-Indonesia dan Munas II Keluarga Lamakera ini mengirimkan pesan kuat tentang model pembangunan yang inklusif dan berbasis komunitas (community-driven development).
Pembangunan di NTT menurutnya, tidak bisa hanya bersandar pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang terbatas, melainkan harus melibatkan konsep pentahelix, di mana komunitas adat dan paguyuban diaspora mengambil peran aktif sebagai mitra strategis pemerintah.
“Melalui kegiatan ini, membuktikan bahwa ikatan kultural dan emosional dapat dikonversi menjadi modal pembangunan yang luar biasa kuat. Prahara jarak di tanah rantau justru melahirkan kerinduan kolektif yang produktif. Dengan komitmen program yang terukur di bidang pendidikan, ekonomi maritim, dan sosial, Yayasan Amal Lamakera Indonesia tentunya telah menunjukkan cara berkelas bagaimana sebuah komunitas lokal mampu menyumbang saham bagi kemajuan peradaban di NTT. Dari pesisir kecil Lamakera, sebuah rajutan masa depan untuk NTT yang lebih sejahtera sedang ditenun bersama,” kata Johni Asadoma.
Wagub juga menjelaskan, sebagai masyarakat bahari, Lamakera memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kawasan ekonomi pesisir yang maju dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pembangunan desa di wilayah kepulauan tidak cukup hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga harus memperkuat kualitas sumber daya manusia, penguasaan teknologi, hilirisasi hasil perikanan, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah, serta peningkatan konektivitas antarwilayah.
“Pemerintah Provinsi NTT akan terus bersinergi dengan Pemerintah Pusat untuk memastikan bahwa masyarakat di pulau-pulau kecil memperoleh kesempatan yang sama dalam menikmati hasil-hasil pembangunan. Kami tentu berharap dukungan dan kolaborasi dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal terus mengalir bagi NTT, khususnya bagi desa-desa di wilayah kepulauan yang memiliki tantangan geografis tersendiri. Kami percaya, dengan semangat membangun dari desa, membangun dari pinggiran, dan membangun bersama masyarakat, NTT akan terus bergerak menuju provinsi yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, dan berkelanjutan.” Pungkasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan yang juga putra asli Lamakera menyampaikan bahwa nilai gotong royong dan semangat kekeluargaan Lamakera telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Ia mengatakan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, pembangunan fasilitas umum, hingga pelaksanaan upacara adat selalu dilakukan secara bersama-sama sebagai wujud persatuan dan rasa kekeluargaan.
“Semoga semangat gotong royong serta pelestarian warisan leluhur yang dimiliki masyarakat Lamakera dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berbasis budaya lokal,” ucapnya.
Dalam acara tersebut Mendes PDT Yandri Susanto juga turut menandatangani prasasti peresmian Musholla Baburrahmah Motonwutun dan peresmian Rumah Qur’an. Serta bersama Wakil Gubernur NTT, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Ahmad Yohan dan Bupati Flores Timur Antonius Doni Dihen, Mendes PDT juga berkesempatan melakukan peletakan batu pertama pembangunan Musholla Darul Ilmi Madrasah Ibtidaiyah Negeri 5 Flotim dan penanaman anakan pohon mangga di Madrasah Aliyah Negeri 2 Flotim.
Melalui acara Reuni VII dan Musyawarah Nasional (Munas) II Keluarga Lamakera se-Indonesia yang berlangsung dari tanggal 3 hingga 7 Juli 2026 tersebut, diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan-keputusan organisasi, tetapi juga melahirkan gagasan dan program yang mampu memperkuat peran Keluarga Lamakera dalam mendukung pembangunan, pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Dan dikala hari mulai gelap dan bulan semakin terang, kemeriahan pembukaan masih menyisakan kehangatan. Senyum, pelukan, dan canda para peserta menjadi penanda bahwa reuni ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan perayaan identitas, persaudaraan, dan semangat gotong royong yang terus hidup di hati masyarakat Lamakera. Bagi para tamu undangan yang hadir, pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kekuatan sebuah daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kokohnya budaya, solidaritas, dan kebersamaan yang terus dirawat oleh masyarakatnya. (BAPNTT/ALT/Dok. Tim).
