Daerah

Angin dan Gempa Goyang Flores, Warga Damu Setengah Mati Menanti Bantuan Pemerintah

80
×

Angin dan Gempa Goyang Flores, Warga Damu Setengah Mati Menanti Bantuan Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Keterangan: Rumah Warga yang Terdampak Gempa Bumi.
Keterangan: Rumah Warga yang Terdampak Gempa Bumi.

Flores_IndoNusra.com Pukul 00.24 wita Gempa menggeruduk kuat. Terus menyusul sampai fajar menyingsing. Pukul 11.30 wita,  gempa dan angin serta rinai hujan berpadu menjadi satu. Gempa datang bumi Flores bergetar.

Angin Utara datang menerjang. Insani Damu teriak mengerang. Awan datang bawa rinai hujan, warga harus tetap waspada.

Antara cerah dan mendung kadang tak menentu. Siap selalu tak  jemu-jemu. BMKG bilang gempa yang getarnya hebat titik patahnya di Reo Manggarai sana.

Damu anak Lulang dan Ndari meski Benteng dengan Rangkan Kili, angin dan gempa tetap tembus bergemuruh. Getar, getar, dan gemetar.

Hari ini memang alam Flores umumnya dan Damu khususnya hanya sibuk gemetar, insani Damu terus gemetar teriak histeris menderu tak betah, Kamis 20 Agustus 2026.

Isak tangis anak-anak memecah saat mereka bermain bersama. Gempa bergemuruh, tanah gemetar, anak-anak berteriak panggil bapa dan mama, begitu juga bapa mama panggil anak-anaknya. Kejadian ini sangat dilema aktivitas.

“Mau masuk rumah takut gempa. Mau baring di tenda takut gempa. Oh…. gempa e… kapan getar mu berakhir? Kami hanya insan yang profesinya petani. Kapan berakhir bisa-bisa kami mati kehabisan makanan. Mau aktivitas, gempa terus mengancam, hendak ke kebun angin kencang menderu, cari kayu api di hutan takut pohon tumbang, oh gempa e… kapan bisa berakhir? Kami warga bumimu sudah setengah mati. Gempa Guncang Flores, Rumah Warga Damu Luluh Lantak”.

Sekitar pukul 06.00 wita Gempa hebat guncang Pulau Flores, perumahan warga Damu, Desa Benteng Tawa III, Kecamatan Riung Barat, Ngada luluh lantak, retak-retak hingga runtuh rata tanah, (Sabtu 16/08/2026)

Warga yang saat itu baru bangun tidur bahkan yang masih menggapai mimpi lari terbirit-birit keluar rumah, memadati area tengah kampung bahkan ada yang lari ke tempat yang lebih luas untuk menyelamatkan diri.

Warga berteriak ‘kami menga ndo’ adalah ungkapan warga sesuai tradisi sepertinya memohon kepada alam semesta untuk merendahkan kekuatan guncangannya. Namun gempa tetap mengguncang bumi dengan getarnya yang cukup lama sekitar tiga menit-an.

Rumah tembok warga yang belum plester retak-retak, ada yang langsung miring, penyokong runtuh bahkan runtuh rata tanah tertutup atap. Yang merasakan itu adalah pemilik rumah bapak Norbertus Walung, rumahnya runtuh rata serentak tertutup atap.

Kejadian alam yang datang tanpa diundang ini sangat mengguncang pilu dan meresahkan para pemilik rumah.

“Rumah runtuh. Bersyukur pemilik rumah cepat keluar. Meski ada cedera dan luka tertindih lemari. Tapi masih bisa selamatkan diri,sebelum rumah runtuh” kisah seorang tetangga yang tidak mau namanya disebut.

Ia menuturkan lagi, bersyukur nenek Lia  tinggal di dapur, yang berdinding bambu, sedangkan anggota rumah lain tidur di rumah yang kini sudah runtuh.

Rumah warga lain hanya retak berat kalau gempa goyang lagi berarti rumah warga: Dominikus Ndiwal, Siprianus Sada, Hendrikus Sue, Pius Sowa, Kaliktus Ndiwal, Sebastianus Saru, Yuliana Maning, Nadus Mberek,  siap-siap runtuh. Dan masih belum terhitung bangunan MCK.

“Kalo gempa guncang lagi, rumah-rumah itu siap runtuh. Kan belum banyak plester, kondisi rumah retak berat, tambah juga bangunan MCK. Warga sekarang sudah buat gubuk darurat”, tutur seorang warga.

Harapan warga kepada Pemerintah Daerah Ngada bisa merespon membantu para korban. Dan berharap gempa segera berakhir, jangan datang guncang lagi.

“Kami hanya minta sedekah bantuan dari Pemda Ngada untuk kami yang adalah korban gempa bumi hebat ini”,  ucap Kaliktus (Sip/***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *