Kupang_IndoNusra.com– Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa rencana pembentukan Free Trade Zone (FTZ) atau Kawasan Perdagangan Bebas di wilayah perbatasan NTT–Republik Demokratik Timor-Leste (RDTL) harus menjadi momentum untuk mengubah kawasan perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Gubernur NTT, saat menjadi nara sumber dalam Undana Talk, sebuah diskusi publik yang diselenggarakan Universitas Nusa Cendana bekerja sama dengan Pos Kupang di Studio Podcast Pos Kupang, Rabu (29/07).
Diskusi mengangkat tema “Lintas Batas ke Sabuk Ekonomi: Mampukah FTZ Mengangkat Kesejahteraan Rakyat NTT?”
Menurutnya, posisi geografis NTT yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste merupakan peluang strategis yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Lintas batas antara NTT dan Timor Leste yang menjanjikan secara ekonomi ini harus kita optimalkan secara baik dan kita eksekusi dengan baik untuk menjadi kawasan yang benar-benar bisa mendatangkan manfaat secara ekonomi bagi Timor Leste dan NTT”, ujarnya.
Ia berharap seluruh persiapan teknis menuju pembentukan FTZ dapat diselesaikan dalam tahun ini atau paling lambat tahun depan, sembari menunggu regulasi dari pemerintah pusat.
Pembentukan FTZ memerlukan proses hukum dan administratif yang dilakukan secara bertahap.
Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT saat ini memfokuskan langkah pada penyusunan pra-studi kelayakan, pengumpulan data dasar, penentuan batas kawasan, penyusunan model ekonomi, identifikasi kebutuhan infrastruktur, serta konsolidasi dengan pemerintah kabupaten di wilayah perbatasan, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan pemerintah pusat.
“Kami tidak ingin tergesa-gesa tanpa dasar yang kuat, tetapi kami juga tidak boleh berhenti pada wacana”, tegasnya.
Gubernur NTT mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Pemerintah Timor-Leste selama ini berjalan sangat baik. Pemerintah negara tetangga tersebut memberikan respons positif terhadap gagasan pembentukan kawasan perdagangan bebas yang diharapkan mampu memberikan manfaat bagi kedua negara.
Ia juga menjelaskan bahwa berbagai persiapan konkret terus dilakukan bersama pemerintah kabupaten di wilayah perbatasan, termasuk pembahasan mengenai lokasi kawasan FTZ yang akan dikembangkan.
Selain aspek infrastruktur dan regulasi, Gubernur NTT tekankan pentingnya mempersiapkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pengembangan kawasan tersebut.
Edukasi kepada masyarakat terus dilakukan agar siap menghadapi perubahan skala ekonomi serta mampu beradaptasi dengan standar perdagangan internasional.
“Masyarakat juga sekarang kami dorong terus untuk diberi edukasi karena nanti masyarakat juga itu sebagai subjek sekaligus bagian yang akan menikmati dan menggerakkan FTZ ini. Mereka harus benar-benar siap dengan berbagai kemungkinan. Kita akan naikkan skala ekonomi kita, naik cara mengurus ekonomi kita, standar kita naik menjadi standar antar negara nantinya”, ujarnya.
Ia menegaskan bahwa gagasan FTZ bukan sekadar membuka ruang keluar-masuk barang antarnegara. Lebih dari itu, FTZ diarahkan untuk mengubah kawasan perbatasan yang selama ini dipandang sebagai wilayah belakang menjadi beranda depan Indonesia sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi baru.
NTT harus keluar dari pola lama yang hanya menjual bahan mentah. Komoditas unggulan seperti sapi, jambu mete, kopi, rumput laut, tenun, dan berbagai hasil pertanian lainnya harus diolah di dalam daerah sehingga mampu memberikan nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Pemerintah Provinsi NTT memastikan bahwa arah pembangunan FTZ tetap berpihak kepada masyarakat.
Dijelaskannya bahwa NTT memiliki seluruh prasyarat untuk mengembangkan kawasan perdagangan bebas. Selain berbatasan langsung dengan Timor-Leste, NTT juga memiliki Pos Lintas Batas Negara (PLBN), beragam komoditas unggulan, serta posisi strategis sebagai gerbang perdagangan Indonesia menuju kawasan Pasifik.
Ia mengingatkan bahwa keunggulan geografis tersebut hanya akan memberikan manfaat apabila mampu diubah menjadi pusat produksi, industri pengolahan, dan pertumbuhan ekonomi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Dirinya mengajak seluruh masyarakat NTT, khususnya para pelaku usaha, koperasi, dan UMKM, mulai mempersiapkan diri menyambut hadirnya FTZ.
Menurutnya, kawasan perdagangan bebas merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan oleh masyarakat NTT agar menjadi pelaku utama dalam aktivitas ekonomi yang akan tumbuh di kawasan tersebut.
“Khusus bagi masyarakat NTT, FTZ ini adalah berkat tersembunyi di tengah situasi dan kesulitan yang tengah kita alami saat ini. Saya berharap seluruh masyarakat, termasuk para pengusaha dan pelaku UMKM, menjadikan ini sebagai momentum untuk mempersiapkan diri sehingga ketika FTZ sudah berjalan, kita bisa mengambil bagian. Pastikan bahwa tuan rumah di kawasan ini adalah pengusaha dan pelaku UMKM NTT sendiri”, pungkasnya. (BAPNTT/BS/Dok. Tim)












